Selasa, 25 Desember 2012




Kampanye perubahan social bagi masyarakat
Masyarakat merupakan kumpulan individu dan kelompok yang membentuk organisasi sosial yang bersifat kompleks. Dalam organisasi sosial tersebut terdapat nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berfungsi sebagai aturan-aturan untuk bertingkah laku dan berinteraksi dalam kehidupan masvarakat.
Adanya suatu perubahan dalam masyarakat akibat perubahan sosial bergantung pada keadaan masyarakat itu sendiri yang mengalami perubahan sosial. Dengan kata lain, perubahan sosial yang terjadi tidak selamanya suatu kemajuan (progress). Bahkan, dapat pula sebagai suatu kemunduran masyarakat.
Dampak Perubahan Sosial bagi Kehidupan Sosial
Terdapat beberapa tanggapan masyarakat sebagai dampak perubahan sosial yang menimbulkan suatu ketidakpuasan, penyimpangan masyarakat, ketinggalan, atau ketidaktahuan adanya perubahan, yaitu sebagai berikut.
  1. Perubahan yang diterima masyarakat kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan. Hal ini karena setiap orang memiliki gagasan mengenai perubahan yang mereka anggap baik sehingga perubahan yang terjadi dapat ditafsirkan bermacam-macam, sesuai dengan nilai-nilai sosial yang mereka miliki.
  2. Perubahan mengancam kepentingan pihak yang sudah mapan. Hak istimewa yang diterima dari masyarakat akan berkurang atau menghilang sehingga perubahan dianggapnya akan mengancangkan berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegahnya, setiap perubahan harus dihindari dan ditentang karena tidak sesuai kepentingan kelompok masyarakat tertentu.
  3. Perubahan dianggap sebagai suatu kemajuan sehingga setiap perubahan harus diikuti tanpa dilihat untung ruginya bagi kehidupan. Pembahan juga dianggap membawa nilai-nilai baru yang modern.
  4. Ketidaktahuan pada perubahan yang terjadi. Hal ini meng­akibatkan seseorang ketinggalan informasi tentang perkem­bangan dunia.
  5. Masa bodoh terhadap perubahan. Hal itu disebabkan perubahan sosial yang terjadi dianggap tidak akan menimbulkan pengaruh bagi dirinya.
  6. Ketidaksiapan menghadapi perubahan. Pengetahuan dan kemampuan seseorang terbatas, dampak perubahan sosial yang terjadi ia tidak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Masalah yang muncul atau dampak perubahan sosial
Perubahan sosial mengakibatkan terjadinya masalah-masalah sosial seperti kejahatan, atau kenakalan remaja. Meskipun begitu, tidak setiap masalah yang terjadi pada masyarakat disebut masalah sosial. Menurut Merton (dalam Soekanto), suatu masalah disebut masalah sosial jika memenuhi beberapa kriteria, yaitu sebagai berikut:
  1. Tidak adanya kesesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan sosial.
  2. Semula ada pendapat keliru yang menyatakan bahwa masalah sosial bersumber secara langsung pada kondisi-kondisi ataupun proses-proses sosial. Pendapat tersebut tidak memuaskan dan telah ditinggalkan. Hal pokok di sini bukanlah sumbernya, melainkan akibat dari gejala tersebut (baik gejala sosial maupun gejala bukan sosial yang menyebabkan terjadinya masalah sosial.
  3. Pihak-pihak yang menetapkan apakah suatu kepincangan merupakan masalah sosial atau tidak. Dalam hal ini, urutannya sangat relatif.
  4. Adanya masalah-masalah sosial yang terbuka dan masalah-masalah sosial yang tertutup. Masalah sosial tersebut timbul akibat terjadinya kepincangan-kepincangan masyarakat karena tidak sesuainya tindakan-tindakan dengan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat. Akibat hal tersebut, masyarakat tidak menyukai tindakan-tindakan yang menyimpang dan berlawanan dengan nilai-nilai yang berlaku.
Masalah sosial merupakan proses terjadinya ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan suatu masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok-kelompok sosial. Dengan kata lain, masalah sosial menyebabkan terjadinya hambatan dalam pemenuhan kebutuhan warga masyarakat. Hal itu berakibat terjadi disintegrasi sosial atau rusaknya ikatan sosial.
Proses disintegrasi sebagai akibat atau dampak perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat berbentuk antara lain sebagai berikut :
1.      Pergolakan dan Pemberontakan
Proklamasi dikumandangkan sebagai pernyataan kemerdekaan Indonesia dapat diterima di berbagai daerah walaupun tidak secara bersamaan. Rakyat menyambut dan mendukungnya. Oleh karena itu, segera dibentuk suatu tatanan dan kehidupan sosial baru. Rangkaian peristiwa itu disebut revolusi. Adanya pergolakan dan pemberontakan di berbagai daerah pascakemerdekaan, berlujuan untuk menjatuhkan kedudukan penguasa pada saat itu, sekaligus menyatakan kelidaksetujuan mereka terhadap ideologi pemerintah.

2.      Aksi Protes dan Demonstrasi
Aksi protes disebut juga unjuk rasa yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia. Hal itu terjadi karena setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang mungkin berbeda. Protes dapat terjadi apabila suatu hal menimpa kepentingan individu atau kelompok secara langsung sebagai akibat dari rasa ketidakadilan akan hak yang harus diterima. Akibatnya, individu atau kelompok tersebut tidak puas dan melakukan tindakan penyelesaian.
Protes merupakan aksi tanpa kekerasan yang dilakukan oleh individu atau masyarakat terhadap suatu kekuasaan. Protes dapat pula terjadi secara tidak langsung sebagai rasa solidaritas antarsesama karena kesewenang-wenangan pihak tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.

3.      Kriminalitas
Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan memberi peluang bagi setiap orang untuk berubah, tetapi perubahan tersebut tidak membawa setiap orang ke arah yang dicita-citakan. Hal ini berakibat terjadinya perbedaan sosial berdasarkan kekayaan, pengetahuan, perilaku, ataupun pergaulan. Perubahan sosial tersebut dapat membawa seseorang atau kelompok ke arah tindakan yang menyimpang karena dipengaruhi keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi atau terpuaskan dalam kehidupannya.
Perbuatan kriminal yang muncul di masyarakat secara khusus akan diuraikan sebagai akibat terjadinya perubahan sosial yang menimbulkan kesenjangan kehidupan atau jauhnya ketidaksamaan sosial. Akibatnya, tidak semua orang mendapat kebahagiaan yang sama. Adanya perbedaan tersebut menyebabkan setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda terhadap hak dan kewajibannya. Setiap orang harus mendapat hak disesuaikan dengan kewajiban yang dilakukan.

4.       Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Bangsa Indonesia yang sedang membangun perlu memiliki sistem administrasi yang bersih dan berwibawa, bebas dari segala korupsi, kolusi, dan nepotisme. Masalah korupsi menyangkut berbagai aspek sosial dan budaya maka Bung Hatta (dalam Mubyarto) mengatakan bahwa korupsi adalah masalah budaya. Apabila hal ini sudah membudaya di kalangan bangsa Indonesia atau sudah menjadi bagian dari kebudayaan bangsa akan sulit untuk diberantas. Akibatnya, ha! tersebut akan menghambat proses pembangunan nasional. Untuk memberantas korupsi, tidak hanya satu atau beberapa lembaga pemerintahan saja yang harus berperan, tetapi seluruh rakyat Indonesia harus bertekad untuk menghilangkan korupsi.

5.       Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan disintergasi dari keutuhan suatu masyarakat. Hal itu karena tindakan yang mereka lakukan dapat meresahkan masyarakat Oleh karena itu, kenakalan remaja disebut sebagai masalah sosial. Munculnya kenakalan remaja merupakan gejolak kehidupan yang disebabkan adanya perubahan-perubahan sosial di masyarakat, seperti pergeseran fungsi keluarga karena kedua orangtua bekerja sehingga peranan pendidikan keluarga menjadi berkurang.
Selain itu, pergeseran nilai dan norma masyarakat menga­kibatkan berkembangnya sifat individualisme. Juga pergeseran struktur masyarakat mengakibatkan masyarakat lebih menyerahkan setiap permasalahan kepada yang berwenang. Perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan unsur budaya lainnya dapat mengakibatkan disintegrasi.
Itulah sedikit yang bisa saya ulas mengenai dampak perubahan sosial masyarakat, semoga bermanfaat.

  

Senin, 24 Desember 2012

pentingnya pendidikan bagi masyarakat....



Pendidikan bagi masyarakat

Pentingnya pendidikan  Pada zaman sekarang, sudah banyak perkembangan dengan sekolah-sekolah. Dulu, ketika globalisasi belum berpengaruh di dunia ini, sekolah masih jarang dan fasilitas ataupun guru-guru pengajar masih relatif kurang memadai. Namun, di zaman yang serba modern ini, kita sudah tidak perlu repot-repot lagi untuk memuntut ilmu di sekolah, karena pada waktu sekarang ini sudah banyak sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Tidak itu saja, fasilitas dan tenaga pendidiknya juga sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya.
Kita perlu ingat bahwa kata “sekolah” dan “sekolahan” itu mempunyai arti yang bebeda, jika sekolah adalah suatu proses seseorang dalam mendapatkan ilmu dan pembimbingan dari pada guru agar bisa berguma bagi masa depannya kelak. Sedangkan sekolahan sendiri adalah suatu tempat yang digunakan atau dipakai untuk sekolah. Jadi dapat dikatakan bahwa sekolah adalah “proses” dan sekolahan adalah “tempat”.
Sebenarnya, tujuan atau fungsi dari sekolah itu sendiri dibagi menjadi dua garis besar yaitu: fungsi pendidikan dan fungsi pengajaran. Fungsi pendidikan yaitu fungsi yang mencacu pada akhlak atau tingkah laku dan kepribadian seseorang. Jadi, melalui fungsi ini, seseorang dapat dibentuk kepribadiannya dalam sekolah. Sedangkan fungsi pengajaran yaitu fungsi yang mengacu pada pengetahuan dan kemampuan seseorang. Jadi, melalui fungsi ini, seseorang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan (IPTEK) yang memadai dan dapat menjadi bekal di masa yang akan datang.
Jadi, di sekolah sebenarnya kita tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan saja, melainkan mendapatkan apa yang disebut akhlak, yaitu, sesuatu yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang dalam bertingkahlaku yang baik sesuai dengan norma yang berlaku.
Namun, yang akhir-akhir ini sering menjadi pertanyaan publik, apakah semua sekolah bisa memberikan manfaat dan menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya, mengingat zaman pun semakin maju dan persaingan kerja pun semakin ketat. Pertanyaan itu muncul dikarenakan pada zaman sekarang ini banyak kita ketahui tentang adanya sekolahan favorit. Misalnya anak yang sekolah di sekolahan favorit tersebut kebanyakan memperoleh ilmu dan kemempuan yang tinggi dan bisa bersaing dalam dunia kerja, tetapi, mengapa anak yang sekolah di sekolahan   tidak favorit kebanyakan kurang bisa bersaing dan mendapatkan ilmu yang kurang juga.
Walaupun sebenarnya pemerintah sudah menetapkan standar tingkat pendidikan atau kurikulum yang berlaku melalui mentri pendidikan nasional, tetapi di setiap sekolahan juga ada program-program tersendiri yang dibuat oleh  pihak sekolahan dan dilakukan dalam lingkup sekolah itu saja. Jadi, program sekolah dapat mempengaruhi kualitas sekolah itu juga.
Itu merupakan salah satu factor eksternal (dari luar) yang mepengaruhi kualitas pendidikan. Selain program dari sekolah itu sendiri, keadaan suatu daerah yang menjadi tempat sekolahan juga mempengaruhi. Misalnya daerah yang masih primitive atau daerah yang tertinggal, disana banyak sekali anak-anak yang tidak bisa bersekolah dengan mudah kerena masih jarangnya sekolahan yang didirikan di daerah itu dan jalur transportasi dan komunikasi pun juga masih sangat sulit.
Sekolahan tidak banyak berpengaruh terhadap hasil dari siswa yang bersekolah di sekolahan tersebut. Karena tidak semua sekolahan yang favorit bisa mencetak siswa yang berprestasi, dan begitu pula sebaliknya dengan sekolahan yang tidak favorit juga bisa mencentak siswa yang unggul.
Karena sekolah merupaka sebuah proses yang harus dijalani untuk mendapatkan ilmu, muka, dalam berlangsungnya proses tersebut ada faktor-faktor yang mempengaruhi atau mengganggunya. Daik itu berasal dari luar diri seseorang ataupun dari dalam diri seseorang tersebut.
Untuk mempersiapkan diri kita dalam melangkah menuju masa depan yang lebih baik, maka kita juga harus sekolah dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk menghilangkan semua faktor yang mengganggu peroses belajar kita di sekolahan. Agar kita bisa berkoonsentrasi penuh dalam belajar dan menuntut ilmu untuk masa depan.
Sistem pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan nasional.


pentingnya pendidikan bagi masyarakat



Pendidikan bagi masyarakat

Pentingnya pendidikan  Pada zaman sekarang, sudah banyak perkembangan dengan sekolah-sekolah. Dulu, ketika globalisasi belum berpengaruh di dunia ini, sekolah masih jarang dan fasilitas ataupun guru-guru pengajar masih relatif kurang memadai. Namun, di zaman yang serba modern ini, kita sudah tidak perlu repot-repot lagi untuk memuntut ilmu di sekolah, karena pada waktu sekarang ini sudah banyak sekolah yang didirikan oleh pemerintah. Tidak itu saja, fasilitas dan tenaga pendidiknya juga sudah sangat berpengalaman dalam bidangnya.
Kita perlu ingat bahwa kata “sekolah” dan “sekolahan” itu mempunyai arti yang bebeda, jika sekolah adalah suatu proses seseorang dalam mendapatkan ilmu dan pembimbingan dari pada guru agar bisa berguma bagi masa depannya kelak. Sedangkan sekolahan sendiri adalah suatu tempat yang digunakan atau dipakai untuk sekolah. Jadi dapat dikatakan bahwa sekolah adalah “proses” dan sekolahan adalah “tempat”.
Sistem pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan nasional.

Kamis, 20 Desember 2012

Mencintai seseorang sebenarnya tidak mudah, karena yang paling mudah adalah menyukai seseorang. Kalau sekadar suka, itu mudah, kita melihat seseorang yang cantik saja biasanya sudah suka, namun yang namanya cinta itu satu taraf lebih tinggi dari suka.